Efek Halo Di Komunikasi

Kesalahan persepsi yang disebut efek halo (halo effects) merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik.

Gagasan-gagasan yang dianggap biasa bahkan usang bila dikemukakan oleh orang awam boleh jadi akan dianggap brilian atau kreatif bila hal itu dikemukakan oleh tokoh nasional, sehingga cepat diliput pers. Tindakan yang meungkin dianggap berisiko dan dungu bila dilakukan orang biasa boleh jadi akan dianggap brerani bila dilakukan oleh selebritis.
Dalam konteks ini, kita dapat memahami mengapa hal-hal kecil yang diucapkan atau dilakukan Abdurrahman Wahid cenderung dianggap luar biasa, terutama oleh para pengagumnya. Bahkan ketidakajegannya dalam dalam berkata-kata dan bertindak, yang dapat dianggap plin-plan bila hal itu dilakukan orang awam, juga dianggap sebagai "bukan plin-plan," "jangan dilihat sepotong-sepotong," melainkan harus dipahami "dalam konteks yang menyeluruh." Kata-kata bijak "Jangan lihat siapa yang bicara tapi apa yang dibicarakan," memang mudah diucapkan, tetapi tampaknya sulit dipraktikan. Salah satu efek halo terbesar yang pernah menghinggapi banyak orang di Indonesia, terutama para pengagum Gus Dur, adalah sangkaan bahwa Gus Dur akan menjadi Presiden RI yang sukses, tetapi nyatanya tidak karena Gus Dur tidak ajeg dalam berkomunikasi dengan bawahannya dan dengan rakyat. Akhirnya Gus Dur dilengserkan oleh DPR.

Efek halo ini memang lazim dan berpengaruh kuat pada diri kita dalm menilai orang lain. Bila kita terkesan oleh seseorang, karena kepemimpinannya atau keahliannya dalam suatu bidang, kita cenderung memperluas kesan awal kita. Bila ia baik dalam suatu hal, seolah-olah ia pun baik baik dalam hal lainnya. Misalnya seseorang adalah guru besar dalam bidang hukum dan pengamat hukum yang kritis, kita mengira bahwa ia akan menjadi Menteri Kehakiman yang baik. Kita kecewa kemudian setelah ia menduduki jabatan tersebut, kinerjanya tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Para pakar menyebut hal itu sebagai "hukum keprimaan" (law of primacy). Itu mungkin karena kita menyesuaikan pandangan berikutnya agar cocok dengan gambaran pertama kita, atau mungkin kita lelah untuk memahami data yang baru. Pengaruh "efek keprimaan" (primacy effects) itu begitu kuat dalam benak kita. Hari pertama di sekolah, cinta pertama, hari kerja pertama di kantor, malam pertama, dan anak pertama, sering kita anggap paling penting dan paling berkesan dari yang lain-lainnya.

Source: letakkomunikasi.blogspot.com

Komentar